DMN NEWS - SLEMAN - Langit sore terasa lebih sunyi dari biasanya ketika kabar duka itu datang. Sosok yang selama ini menjadi penopang kehangatan keluarga, kini telah berpulang.

Ibunda dari Staf Khusus Bidang Penegakan Keadilan dan Rekonsiliasi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Irjen Pol. Ahmad Nurwahid, yakni Hj. Nuryati, meninggal dunia pada Selasa (21/4/2026) sekitar pukul 15.17 WIB. Kepergiannya bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga meninggalkan ruang kosong bagi banyak orang yang mengenalnya.

Kabar tersebut menyebar cepat, dari satu pesan ke pesan lain, dari satu pelukan ke pelukan berikutnya. Tak butuh waktu lama, rumah duka mulai dipenuhi pelayat. Wajah-wajah yang datang membawa duka, sekaligus kenangan tentang sosok yang kini hanya bisa dikenang dalam doa.

Baca Juga: Semangat Kartini Menggema di Magelang, Perempuan Didukung Jadi Kunci Keadilan dan Masa Depan

Hj. Nuryati bukanlah figur publik. Ia tidak hidup di bawah sorotan. Namun justru di situlah letak kekuatannya—ia dikenal karena ketulusan, bukan pencitraan.

Dalam keseharian, almarhumah dikenal sebagai pribadi yang sederhana. Cara bicaranya lembut, sikapnya hangat, dan kehadirannya selalu menenangkan. Ia bukan hanya seorang ibu bagi anak-anaknya, tetapi juga menjadi figur yang dihormati di lingkungan sekitar.

Banyak yang mengenangnya sebagai sosok yang ringan tangan, mudah tersenyum, dan tak pernah ragu membantu siapa pun yang membutuhkan. Nilai-nilai itu tumbuh kuat dalam keluarganya—keluarga yang memang dikenal memiliki akar religius yang dalam.

Baca Juga: Jejak Dugaan Korupsi DJKA Melebar, KPK Telusuri Peran Sudewo dan Aliran Fee Proyek Kereta

Lingkungan sekitar mengenal keluarga ini sebagai keluarga yang menjunjung tinggi ajaran agama. Sosok ayah dalam keluarga tersebut bahkan dikenal sebagai ulama yang disegani. Dari sanalah nilai kesederhanaan, keikhlasan, dan keteguhan iman tumbuh dan diwariskan.

Tak heran, Hj. Nuryati menjadi cerminan dari nilai-nilai itu.

Ucapan belasungkawa terus mengalir. Salah satunya datang dari Ki Mujar, yang hadir langsung di rumah duka. Ia menggambarkan almarhumah sebagai pribadi yang tulus dan bersahaja.

“Beliau orangnya baik, sederhana. Keluarganya juga dikenal religius, sangat dihormati,” ujarnya lirih.

Baca Juga: Anak Pemulung di Boyolali Kembali Sekolah Lewat Program Prabowo, Harapan yang Nyaris Padam Menyala

Suasana di rumah duka dipenuhi isak pelan dan doa yang tak putus. Setiap pelayat datang membawa cerita—tentang kebaikan kecil yang mungkin dulu terasa biasa, namun kini menjadi kenangan yang tak tergantikan.

Kepergian ini mengajarkan satu hal yang sering terlupakan: bahwa keteladanan tidak selalu datang dari hal besar. Kadang, ia hadir dalam bentuk kesederhanaan yang konsisten, dalam kebaikan yang dilakukan tanpa pamrih.

Rencananya, almarhumah akan dimakamkan pada Rabu siang (22/4/2026) di wilayah Tempel. Prosesi tersebut diperkirakan akan dihadiri keluarga besar, tokoh masyarakat, serta orang-orang yang selama ini mengenal dan mencintainya.

Baca Juga: Tren Lifestyle 2026: Pentingnya Work-Life Balance dan Kesehatan Mental

Kini, yang tersisa adalah doa dan kenangan.

Namun bagi keluarga, terutama bagi Ahmad Nurwahid, kehilangan ini tentu lebih dari sekadar perpisahan. Ini adalah kehilangan sosok yang selama ini menjadi rumah—tempat pulang, tempat menguatkan, dan tempat belajar tentang arti kehidupan.

Dan mungkin, di antara doa-doa yang dipanjatkan hari ini, terselip satu harapan sederhana: semoga segala kebaikan yang pernah ditanamkan almarhumah, menjadi cahaya yang terus hidup—bahkan setelah ia tiada.(*)