DMN NEWS - London – Konflik yang terjadi di Selat Hormuz mulai mengguncang sektor penerbangan Eropa. Gangguan distribusi minyak dari kawasan Teluk membuat pasokan bahan bakar jet menipis dan mendorong industri penerbangan ke ambang krisis.

Direktur Eksekutif International Energy Agency, Fatih Birol, memperingatkan cadangan bahan bakar jet di Eropa diperkirakan hanya cukup untuk sekitar enam minggu. Kondisi ini berpotensi memicu pembatalan penerbangan secara luas jika pasokan tidak segera pulih.

Sejak konflik memanas pada akhir Februari 2026, jalur distribusi energi global melalui Selat Hormuz mengalami gangguan signifikan. Sekitar 20 persen pasokan bahan bakar jet dunia diketahui melintasi jalur ini, menjadikannya titik krusial dalam rantai pasok global.

Baca Juga: Kasus Transaksi Surat Berharga 1999, PN Jakpus Hukum Hary Tanoe Bayar Rp531 Miliar ke CMNP

Eropa sendiri sangat bergantung pada impor energi. Hampir seluruh kebutuhan bahan bakar jet dipenuhi dari luar kawasan, dengan sekitar 50 persen berasal dari Timur Tengah. Bahkan, sekitar 30 persen pasokan bahan bakar jet Eropa terkait langsung dengan jalur Selat Hormuz.

Dampaknya langsung terasa pada harga. Data International Air Transport Association mencatat harga bahan bakar jet melonjak hingga 95 persen sejak konflik dimulai, menembus US$ 1.458 per ton pada pertengahan April.

Analis dari Rystad Energy, Claudio Galimberti, menyebut kondisi ini sebagai krisis energi terburuk dalam beberapa dekade terakhir. Ia memperkirakan kekurangan bahan bakar di bandara-bandara Eropa bisa terjadi dalam lima hingga tujuh minggu ke depan.

Baca Juga: Negosiasi AS–Iran Mandek dan Hormuz Memanas, Harga Minyak Dunia Naik ke USD103 per Barel

Sementara itu, ekonom ING Group, Rico Luman, menilai blokade Selat Hormuz sebagai situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menurutnya, persaingan global untuk mendapatkan bahan bakar jet akan semakin ketat.

Di tingkat kebijakan, Komisi Eropa mulai menyiapkan langkah mitigasi, mulai dari skema berbagi bahan bakar hingga penyesuaian slot penerbangan.

Di lapangan, sejumlah maskapai sudah melakukan penyesuaian operasional. Lufthansa bahkan berencana memangkas hingga 20.000 penerbangan jarak pendek selama musim panas demi efisiensi bahan bakar. Maskapai lain seperti SAS dan KLM juga mulai mengurangi frekuensi penerbangan intra-Eropa.

Baca Juga: Perkuat Kerja Sama Strategis,Prabowo dan PM Australia Bahas Ekspor Urea 250 Ribu Ton

Italia mengambil langkah lebih jauh dengan menerapkan penjatahan bahan bakar, membatasi pasokan hingga 2.000 liter untuk penerbangan jarak pendek.

Dampak juga dirasakan langsung oleh penumpang. Harga tiket mengalami kenaikan signifikan, dengan tambahan biaya mencapai 88 euro untuk penerbangan jarak jauh dan sekitar 29 euro untuk rute regional.

Meski Amerika Serikat dan Nigeria telah meningkatkan pasokan, para analis menilai upaya tersebut belum cukup menutup kekurangan dari Timur Tengah.

Dalam jangka panjang, pengembangan bahan bakar alternatif seperti sustainable aviation fuel (SAF) dinilai menjadi solusi. Namun saat ini kontribusinya masih sangat kecil, sekitar 2 persen dari total kebutuhan.

Baca Juga: Ekonomi Kayong Utara Melonjak 5,89 Persen, PSN Pulau Penebang Beri Dampak Nyata

Krisis ini kembali menegaskan kerentanan sektor penerbangan global terhadap ketergantungan pada minyak.

Selama konflik di Selat Hormuz belum mereda, tekanan terhadap industri penerbangan Eropa diperkirakan akan terus berlanjut—bahkan berpotensi membuat langit Eropa lebih lengang pada musim liburan mendatang.(wn)