DMNNEWS – MAGELANG - Di tengah teriknya cuaca siang, semangkuk es dawet dingin kerap menjadi pilihan sederhana yang mampu menghadirkan kesegaran instan. Perpaduan antara cendol kenyal, santan gurih, dan manisnya gula aren menghadirkan sensasi yang sulit ditolak, terutama saat dinikmati di bawah rindangnya pepohonan.
Suasana itulah yang dapat ditemui di jalur utama Magelang–Purworejo, tepatnya di kawasan Salaman, di depan Lapangan Tembak Akademi Militer (Akmil). Di lokasi ini, es dawet ayu khas Banjarnegara milik “Kang Siput” menjadi salah satu kuliner yang tak pernah sepi pembeli.
Lapak sederhana di pinggir jalan tersebut justru menjadi magnet bagi para pelintas. Tidak hanya warga sekitar, banyak pengendara dari luar daerah rela berhenti sejenak untuk menikmati segarnya es dawet legendaris ini. Salah satunya Hermanto, warga Gombong, Kebumen, yang mengaku hampir selalu menyempatkan diri mampir setiap kali melintas menuju Muntilan.
Baca Juga: 5 Kuliner Khas Wonosobo Wajib Coba Saat ke Dieng, Murah Lezat dan Penuh Cita Rasa Tradisional
“Rasanya segar dan manisnya pas. Kalau siang seperti ini, paling nikmat minum es dawet,” ungkapnya. Ia bahkan mengaku bisa menghabiskan dua mangkuk sekaligus dalam satu kunjungan.
Kelezatan es dawet Kang Siput tidak lepas dari racikan bahan alami yang digunakan. Gula aren menjadi pilihan utama untuk memberikan rasa manis yang khas sekaligus aroma yang lebih wangi dibandingkan pemanis biasa. Inilah yang menjadi salah satu alasan pelanggan terus kembali.
Usaha ini dirintis oleh Pujiyono sejak 1998 di Kudus. Namun, krisis ekonomi yang terjadi kala itu memaksanya untuk memindahkan usaha ke Yogyakarta, tepatnya di kawasan Pengok. Di lokasi tersebut, ia menyasar pasar mahasiswa dan berhasil mengembangkan usahanya hingga dikenal luas.
Baca Juga: Sudaryono Soroti Peternak, Kontes Sapi Nasional Wonosobo Dibuka Ahmad Muzani
Perjalanan bisnisnya terus berlanjut. Sekitar tahun 2010, Pujiyono memutuskan untuk membuka usaha di Magelang. Ia memilih lokasi di pinggir jalan dengan suasana teduh di bawah pohon nyamplung, yang ternyata menjadi keputusan tepat.
Kini, dalam satu hari, ia mampu menjual hingga 500 mangkuk es dawet. Untuk memenuhi kebutuhan produksi, ia menghabiskan puluhan kilogram bahan baku setiap hari, mulai dari dawet, gula aren, hingga kelapa segar. Bahkan, ia juga menambahkan durian sebagai pelengkap untuk memberikan cita rasa khas.
Dari usaha tersebut, Pujiyono tidak hanya mampu mempertahankan bisnisnya, tetapi juga meningkatkan taraf hidup. Ia berhasil membeli tanah di kampung halamannya di Wonosobo, serta mengembangkan usaha dengan membuka beberapa cabang di wilayah Magelang dan Purworejo.
Baca Juga: Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Praka Rico Pramudia Meninggal Usai Dirawat Intensif Sejak Maret
Selain melayani pembeli harian, es dawet Kang Siput juga sering dipesan untuk berbagai acara, seperti pernikahan dan kegiatan instansi. Saat masih berjualan di Yogyakarta, ia bahkan pernah menerima pesanan khusus dari Kapolda DIY kala itu.
“Kebetulan beliau pelanggan saya. Karena sudah kenal, akhirnya memesan dawet untuk acara keluarga,” kenangnya.
Tak hanya itu, racikan es dawetnya juga pernah dinikmati oleh sejumlah tokoh penting, seperti Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X hingga Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri.
Baca Juga: Ekonomi Kayong Utara Melonjak 5,89 Persen, PSN Pulau Penebang Beri Dampak Nyata
Kisah perjalanan usaha ini menjadi bukti bahwa kuliner tradisional memiliki daya tarik kuat jika dikelola dengan konsisten dan menjaga kualitas. Es dawet Kang Siput bukan sekadar minuman pelepas dahaga, tetapi telah berkembang menjadi ikon kuliner lokal yang digemari berbagai kalangan.
Keberadaan kuliner seperti ini juga menjadi bagian penting dalam menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus melestarikan warisan rasa Nusantara yang terus hidup di tengah modernisasi.(*)